
“DEBAT PEMURNIAN HD VS. HI: DEBAT PERTAMA RANTAI EPISTEMIK HUBUNGAN DUNIA TIMUR VIS-A-VIS HUBUNGAN INTERNASIONAL BARAT” (INDONESIA, 26 APRIL 2026)
Ruang Pakar Ke-4 Perhimpunan Kajian Keamanan Dunia (RP4-PKKD) telah membuka “DEBAT PEMURNIAN HD VS. HI: DEBAT PERTAMA RANTAI EPISTEMIK HUBUNGAN DUNIA TIMUR VIS-A-VIS HUBUNGAN INTERNASIONAL BARAT” pada 26 April 2026 yang diikuti 40 Scholars Indonesia sebagai Deklarator dan 1 Inisiator atau penggagas yaitu Adi Rio Arianto sekaligus sebagai Ketua Umum PKKD. Berikut adalah Nama-Nama Tokoh Deklarator dan Inisiator (40+1) “Debat Pemurnian 2026”:
Pembukaan Debat Pemurnian 2026 menjadi pintu utama kodifikasi rantai epistemik Hubungan Dunia (HD), Hubungan Internasional (HI), dan Keamanan Dunia (KD) terkait paradigma, filsafat, teori, konsep, model, dan pola gagasan asli dari scholars Indonesia bagi terbentuknya “Mazhab Indonesia” (Indonesian School of World Relations).
Untuk mencapai kodifikasi rantai epistemik yang memadai berciri khas Indonesia, PKKD bersama Mazhab Indonesia terus melakukan penjaringan secara terarah melalaui serial RP4-PKKD dengan mengudang scholars yang memiliki gagasan asli untuk pengembangan Hubungan Dunia (HD), Hubungan Internasional (HI), dan Keamanan Dunia (KD).
Sumbangan gagasan tersebut diperkenalkan oleh PKKD dan Mazhab Indonesia secara bergulir sepanjang tahun 2026 hingga tercapainya kodifikasi bagi terbentuknya “Mazhab Indonesia” (Indonesian School of World Relations). Berikut adalah beberapa hal penting terkait kodifikasi awal pada Pembukaan Debat Pemurnian 2026 yaitu:
Berikut adalah latar belakang lahirnya “DEBAT PEMURNIAN HD VS. HI: DEBAT PERTAMA RANTAI EPISTEMIK HUBUNGAN DUNIA TIMUR VIS-A-VIS HUBUNGAN INTERNASIONAL BARAT” yang kemudian dikenal dengan istilah “Debat Pemurnian 2026”.
Pengetahuan tentang menata dunia seringkali ditempuh dengan cara-cara yang sangat kompleks dari sejak zaman purba hingga masa kini. Dari sejak era kuno hingga era anyar (modern). Dari sejak Asia Purba hingga Eropa modern. Dari sejak Afrika purba hingga Amerika modern. Bahkan dari sejak Eurasia purba hingga Australia modern. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang menginduk pada Ilmu Humaniora memiliki banyak pendekatan dalam menata dunia, salah satunya adalah disiplin “Hubungan Internasional”. Selama berabad-abad dari sejak tahun 1919, disiplin Hubungan Internasional telah membentuk dunia berdasarkan nilai-nilai Barat yang berakar pada tradisi Yunani Kuno dan Romawi Kuno.
Tidak hanya itu, Disiplin Hubungan Internasional juga menawarkan paradigma besar dalam memahami tatanan dunia dari kacamata Barat, yaitu “Hubungan Internasional” yang berakar pada tradisi Barat yang mulai diadopsi dari sejak peristiwa Perang Peloponnesia (431-404 SM) di Yunani Kuno hingga bergulir ke peristiwa Perdamaian Westphalia (1648) di Eropa. Tradisi Barat yang paling kental dan diadopsi hingga hari ini adalah soal nilai-nilai Liberal yang berakar pada materialisme-sekularisme yang lahir di masa Renaissance (Pencerahan) yang kemudian digunakan untuk membangun dunia di Barat (Atlantikal) dan diekspor secara besar-besaran ke dunia Timur (Manunggal).
Bagaimana dengan dunia Timur? Dunia Timur selama berabad-abad kehilangan arah sejak bergulirnya Renaissance (Pencerahan Barat) yang berakibat pada hilangnya relevansi Timur di masa tersebut. Oleh karena itu, setelah lama mengalami masa-masa kehilangan relevansi tersebut, dunia Timur mulai menemukan cara untuk mampu membentuk kembali relevansi tersebut di abad kini dengan menawarkan bentuk interaksi sekaligus disiplin “Hubungan Dunia” yang berakar pada tradisi Indonesia Purba (Nusantara Purba), Mesir Kuno, Mesopotamia Kuno, dan Persia Kuno yang menyebar ke semua benua Asia, Afrika, dan Eurasia membentuk tradisi Timur (Manunggal). Di Indonesia Purba diawali dengan pemikiran Meganthropus paleojavanicus dalam bentuk simbol-simbol yang harus bisa diuraikan oleh manusia masa kini.
Dunia Barat melihat tatanan dunia melalui Disiplin Hubungan Internasional (Discipline of International Relations) yang berfokus pada studi interaksi negara-negara materialis sebagai Hubungan Internasional. Lebih lanjut, Disiplin Hubungan Internasional telah menghasilkan berbagai paradigma, filsafat, dan teori tentang pengorganisasian dunia melalui akumulasi metode berpikir yang disebut dengan “Teori Hubungan Internasional Barat (Western International Relations Theory/WIRT)”.
Sementara itu, metode berpikir Dunia Timur dalam memandang tatanan dunia belum terkodifikasi dengan baik. Oleh karena itu, Dunia Timur perlu memperkenalkan ide-ide baru berupa Disiplin Hubungan Dunia (Discipline of World Relations) yang berfokus pada interaksi geometrikal “Tata Bawana (Keamanan Dunia Basis Kelima)” dengan menghadirkan “Teori Hubungan Dunia Timur (Eastern World Relations Theory/EWRT)”. Sebagai upaya untuk menyajikan keseimbangan disiplin ilmu mengenai cara menata dunia, Debat Pemurnian ingin menawarkan metode berpikir baru untuk memahami tatanan dunia dari Timur dan membandingkannya dengan metode berpikir Barat dalam hal memandang dunia.
Selama berabad-abad pasca peristiwa awal Renaissance (Pencerahan Barat), dunia Barat (Atlantik) telah membangun sistem perdamaian dunia melalui pendekatan Liberal dan membagikannya ke dunia Timur (Manunggal) dengan cara yang sangat eksploitatif (Hobbes, 1642; Thucydides, 1972; Hegel, 2012; Herodotus, 2013; Darwin, 2017; Machiavelli, 2019). Hal ini terjadi karena reproduksi pengetahuan dalam Ilmu Sosial, termasuk Hubungan Internasional (HI), menciptakan hegemoni (kuasa atas pengetahuan baik metode maupun tujuannya) dan ketidaksetaraan epistemik (Mas’oed, 1990; Dugin, 2009; Acarya dan Buzan, 2010; Said, 2016; Arianto dan Anggraini, 2023; Demak Declaration, 2024; Mas’oed, 2024).
Mochtar Mas’oed dalam Konvensi Nasional XII Asosiasi Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) 2021 di Universitas Gadjah Mada mengajak untuk menggali rantai epsitemik dalam memahami dunia dengan pernyataan epistemiknya yang sangat provokatif bahwa “Eropa menghasilkan pengetahuan berdasarkan pengalaman sejarahnya yang sangat parokial, sangat Eropa “Eurocentric” bahkan sangat “Anglo-Saxon”, tetapi itu diakui sebagai pengetahuan universal. Jadi, misalnya kita mempelajari Perang Diponegoro (Perang Jawa) maka yang dipakai adalah perang di Eropa…sehingga terjadilah proses penunggalan-penunggalan ontologi dan penunggalan epistemologi (Europe produces knowledge based on its historical experiences, which are very parochial, very “Eurocentric,” even very “Anglo-Saxon,” yet they are recognized as universal knowledge. So, for example, when we study the Diponegoro War (Java War), we use an analysis of the war in Europe…thus, a process of ontological singularity and epistemological singularity occurs)” (Mas’oed, 2021).
Amitav Acharya dalam pergumulan epistemiknya menyatakan kekagumannya atas ide Sukarno yang sangat revolusioner dan provokatif soal bagaimana pemimpin Indonesia melihat Tatanan Dunia yang kemudian mendorong berbagai diskusi epistemik di Asia hingga wacana tersebut meluas di tingkat internasional dengan menyatakan bahwa ”In the 1960s, Indonesia’s Sukarno expounded a radical conception of North-South conflict by arguing that the main division of the world was not through the Cold War, but through the struggle between the ‘Old Established Forces’ (OLDEFOS) and the ‘New Emerging Forces’ (NEFOS)” (Acharya, 2019).
Adi Rio Arianto dalam Kongres Mazhab Indonesia ke-1 tahun 2024 mengajak untuk menggali lalu melakukan kodifikasi rantai epistemik Timur dengan pernyataan epistemiknya yang sangat provokatif menantang tatanan rantai epistemik Barat yang mapan bahwa “Indonesia harus berani mendefinisikan ulang dunia abad ke-21 melalui penataan kembali dunia atas 8 (delapan) bagian yaitu sejarah, peradaban, budaya, tradisi, filsafat, ideologi, sosial, dan manusia. Inilah Era Pemurniaan. Dari sinilah, Deklarasi Demak 2024, Indonesia mengambil tanggung jawab membangun Perdamaian Manunggal (“Indonesia must boldly redefine the 21st-century world by restructuring a World Relations on eight parts: history, civilization, culture, tradition, philosophy, ideology, society, and humanity. This is the Era of Purification. From here, Demak Declaration 2024, Indonesia assumes the responsibility of building Manunggal Peace)” (Arianto, 2024).
Sekilas garis waktu tercapainya kodifikasi Deklarasi Demak 2024 berdasarkan hasil dari Kongres Mazhab Indonesia Ke-1 pada tanggal 28 Agustus – 28 September 2024 dengan mengangkat tema utama “Era Manunggalian: Menggerakkan Nilai-Nilai Keindonesiaan (Pemurnian) Untuk Mewujudkan Tata Dunia Baru Abad Ke-21.” Kongres Mazhab Indonesia Ke-1 dilangsungkan dalam empat rangkaian pertemuan epistemik yaitu:
Adapun delapan Pranata Dunia yang tertuang dalam Deklarasi Demak 2024 yaitu:
Kongres Mazhab Indonesia Ke-1 pada 28 Agustus-28 September 2024 yang mengusung tema utama “Era Manunggalian: Menggerakkan Nilai-Nilai Keindonesiaan (Pemurnian) Untuk Mewujudkan Tata Dunia Baru Abad Ke-21” memiliki pertalian kuat dengan Kongres Perhimpunan Kajian Keamanan Dunia Ke-1 pada 20 November 2022 yang mengangkat tema utama “Keamanan Dunia Abad Ke-21: Era Pemurnian”.
Kedua kongres tersebut sama-sama bersumbangsih pada era Manunggalian. Kongres Perhimpunan Kajian Keamanan Dunia Ke-1 terlaksana dibawah nasihat dan arahan dari Broto Wardoyo, S.Sos., MA., Ph.D; Drs. Muhadi Sugiono, MA; Dr. Nanda Avalist , S.IP., M.Si; Dr. Sugeng Riyanto, M.Si; Dr. Ian Montratama, SE., MEB; Dr. Phil. Shiskha Prabawaningtyas, S.IP., MA.; dan Pradono Budi Saputro, S.Hum., M.Si.. dan juga mengikutsertakan seluruh masukan dari scholar PKKD yang berjumlah 40 anggota saat terlaksananya Kongres 1 PKKD 2022.
Berangkat dari kondisi di atas, PKKD berkesempatan untuk merespon wacana hegemoni dan ketidaksetaraan epistemik atas Nilai-Nilai Liberal. Dalam konteks ini, Nilai-Nilai Timur (Manunggal) menjadi alternatif dalam menganalisis asal usul sifat alamiah manusia di Asia, Afrika, dan Eurasia. Upaya menyajikan keseimbangan disiplin ilmu mengenai cara menata dunia, kerangka ini menawarkan metode berpikir baru (paradigma, filsafat, dan teori) memahami tanan dunia dari Timur melalui inisiatif Ruang Pakar ke-4 Perhimpuanan Kajian Keamanan Dunia (RP4-PKKD) dengan memulai kodifikasi “DEBAT PEMURNIAN HD VS. HI: DEBAT PERTAMA RANTAI EPISTEMIK HUBUNGAN DUNIA TIMUR VIS-A-VIS HUBUNGAN INTERNASIONAL BARAT”. Debat Pemurnian dibuka pada tanggal 26 April 2026 di Indonesia dengan mengajukan 3 pertanyaan dasar epistemik sebagai berikut:
Tiga pertanyaan di atas adalah deklaratif provokasi epistemik dan debat literatur. Untuk itu, PKKD mengajukan proposisi berupa: 15 kategori substansi Timur vs. Barat; 2 Ideologi Induk: Manularisme vs. Sekularisme; 8 Pondasi Hubungan Dunia (HD); 8 Pranata Dunia Timur; 7 Prinsip Nilai Timur (asumsi Eastern World Relations Theory/EWRT); 7 Sistem (moral) HD; 8 Struktur (aktor) HD; dan 2 Polarisme (kutub) HD.
Dalam rangka menyajikan proposisi di atas, PKKD mengajukan 3 syarat batasan yaitu:
Seluruh proses yang ditempuh oleh RP4-PKKD dalam menemukan jawaban dari 3 pertanyaan di atas disebut dengan istilah “Debat Pemurnian” yang memperkuat berjalannya Era “Manunggalian” sejak 2024. Sesuai hasil Kongres PKKD Ke-1 2022, Ruang Pakar PKKD adalah diskusi epistemik terkait perkembangan keilmuwan Kajian Keamanan Dunia dan Kajian Hubungan Internasional untuk mendiskusikan secara mendalam bangunan rantai epistemik dari segi paradigma, filsafat, metodologi, perspektif, teori, konsep, model, kasus, fenomena, dll. RP4-PKKD menghadirkan pembicara khusus eksternal dan internal PKKD yang dihadiri oleh scholar dan khalayak umum dalam rangka membangun tradisi kajian dan debat epistemik yang adil dari semua level scholar termasuk akademisi, sipil, dan militer.
Dalam membuka Debat Pemurnian, RP4-PKKD memberikan kesempatan kepada Adi Rio Arianto sebagai Inisiator Debat Pemurnian untuk memaparkan dan menguraikan secara detil pandangan epistemiknya tentang Hubungan Dunia serta jalan bagaimana Hubungan Dunia menemukan relevansinya dengan mengimbangi Hubungan Internasional melalui penelusuran rantai epistemik dengan memperkenalkan 15 kategori substansi Timur vs. Barat; 2 Ideologi Induk: Manularisme vs. Sekularisme; 8 Pondasi Hubungan Dunia (HD); 8 Pranata Dunia Timur; 7 Prinsip Nilai Timur (asumsi Eastern World Relations Theory/EWRT); 7 Sistem (moral) HD; 8 Struktur (aktor) HD; dan 2 Polarisme (kutub) HD.
Debat Pemurnian ditujukan untuk menjawab asal-usul dan makna ontologis Hubungan Dunia dan Hubungan Internasional, bagaimana metode penggalian dan kodifikasi terhadap rantai epistemik epistemologis Hubungan Dunia dan Hubungan Internasional, dan menemukan tujuan aksiologis bahwa pendekatan HD diperlukan dari pendekatan HI dalam melihat dunia (world-view) melampaui perdamaian (pax) vs. perang (war).
Debat Pemurnian berusaha menyelami eksistensi dan substansi dari semua filsafat bangsa-bangsa (baik filsafat Timur maupun filsafat Barat) melalui kombinasi sains ilmiah, penelusuran sejarah teks-teks kuno, dan risalah mistisisme; menganalisis secara kritis semangat zaman terkini di seluruh dunia; serta mensintesiskan paradigma, filsafat, dan teori untuk tata bawana.
Kodifikasi Debat Pemurnian ditujukan untuk menghubungkan Jaringan Epistemik Indonesia “Mazhab Indonesia” (Indonesian School of World Relations) dengan Jaringan Epistemik seperti Mazhab Inggris, Mazhab Amerika, Mazhab Kopenhagen, Mazhab Kanadian, Mazhab Rusia, Mazhab Prancis, Mazhab Frankfurt, Mazhab India, Mazhab China, dan mazhab lainnya.
Hasil kodifikasi Debat Pemurnian berusaha membangun cara-cara berfilsafat Ketimuran memperkuat Eastern World Relations Theory (EWRT) berbasis Mistisisme-Manularisme mengimbangi cara-cara berfilsafat Kebaratan Western International Relations Theory (WIRT) berbasis Materialisme-Sekularisme. Sintesisnya adalah Discipline of World Relations (Disiplin Hubungan Dunia) seperti yang tertuang dalam karya “Manunggalism: Paradigm, Philosophy, and Theory to View the World Relations (WR) Belong to Indonesian School (Mazhab Indonesia) in Manunggalian Era 21st Century.” https://digitalpress.ugm.ac.id/article/433
Indonesia, 26 April 2026
Ketua Umum PKKD sekaligus Inisiator Debat Pemurnian 2026 pada Ruang Pakar Ke-4 Perhimpunan Kajian Keamanan Dunia (RP4-PKKD)
Adi Rio Arianto
Tinggalkan Komentar