Informasi
Rabu, 04 Feb 2026
  • Mazhab Indonesia (Manunggalisme): Paradigma, Filsafat, dan Teori Melihat Hubungan Dunia Berdasarkan Nilai-Nilai Kemanunggalan Dunia.
  • Mazhab Indonesia (Manunggalisme): Paradigma, Filsafat, dan Teori Melihat Hubungan Dunia Berdasarkan Nilai-Nilai Kemanunggalan Dunia.
31 Agustus 2025

Indonesia Manunggalian: Manupolitika Melampaui Triaspolitika?

Ming, 31 Agustus 2025 Dibaca 63x Blog

“Jutaan dan bahkan miliaran tahun sejak dunia terbentuk, banyak manusia hendak mematikan filsafat, namun pada akhirnya filsafatlah yang berbalik mematikan mereka, ia yang hidup adalah ia yang berfilsafat.”

Malam ini adalah Kliwon, Minggu 31 Agustus 2025. Setelah seminggu berjalannya aksi 25 Agustus 2025 (25825), keadaan Jakarta begitu mencekam. Ibu kota dalam keadaan kalut. Inilah aksi Revolusi Rakyat Indonesia. Tidak disusupi menjalar secara nasional. Aksi ini adalah murni kemarahan rakyat kepada kinerja Dewan Perwakilan Rakyat. Malam ini juga rupanya malam diperintahnya penembakan oleh Kapolri jika aksi anarkis masih berlanjut menargetkan kepolisian. Perintah itu berlaku secara nasional.

Cara rakyat marah kali ini itu beda. Dulu kita aksi tetapi tidak merusak rumah anggota dewan atau tokoh eksekutif tertentu. Kali ini begitu beda. Rakyat berani melakukan itu secara terbuka dan berlanjut dari satu rumah ke rumah dewan/tokoh eksekutif yang lainnya. Rumah Syahroni, lalu rumah Uya Kuya, lalu rumah Eko Patrio, kini giliran rumah Sri Mulyani. Apakah andagium bahwa “Tidak satupun yang mampu mengevaluasi Legsilatif” masih menjadi kekuatan Triaspolitika atau sebaliknya kelemahan?” Masih perlukah kita kepada Triaspolitika?

Baiklah. Selasa lalu, tanggal 26 Agustus 2025 adalah hari ulang tahun istri saya, Gesti Anggraini. Karena berkabung dengan keadaan Jakarta, merayakannya menjadi tidak perlu. Siang berdiskusi dengan mahasiswa di kelas. Kebetulan atau tidak karena topik yang diperdebatkan saat itu adalah soal bagaimana cara menghukum koruptor saat mereka diadili yang dampaknya bisa lebih kuat/ril langsung ke mayarakat? bagiamana sebaiknya menyita harta koruptor agar proses penyitaan tersebut bisa langsung dirasakan oleh rakyat? Bagaimana mengevaluasi Legislatif jika keadaannya merekalah yang membuat aturannya sendiri?

Dan, di malam tanggal 26 Agustus dengan begitu tiba-tiba badan saya demam. Saya sakit selama berhari-hari dan baru pulih dari demam hari Jumat malam memasuki Sabtu subuh. Tanggal 27 Agustus adalah hari pernikahan kami. Hari itu saya tetap berdiam di rumah sembari fokus mengamati naiknya tensi aksi di kota lain. Tanggal 28 Agustus adalah berdirinya Mazhab Indonesia. Organisasi yang saya dirikan bersama istri.

Jadi, pada tiga hari ini: 26 Agustus, 27 Agustus, dan 28 Agustus seharusnya menjadi waktu terbaik untuk menerbangkan kembali “Maunggalian” secara nasional di Jakarta namun menjadi teralihkan oleh dua hal: saya sakit, dan aksi Revolusi Rakyat Indonesia. Saya merasa bahwa kedua hal ini punya pertalian kuat yaitu sama-sama memurnikan. Saya sakit karena sedang memurnikan diri di rumah. Indonesia sakit dan juga sedang memurnikan dirinya dengan caranya sendiri. Inilah konteks yang ingin saya sampaikan kepada Indonesia saat ini: Indonesia Manunggalian. Perlukah kita Manupolitika?

Berlanjut hingga Jumat malam, datang berita gedung DPR Makassar telah dibakar menggelegar oleh massa aksi. Psikologi nasional tidak hanya mencekam tetapi ikut terbakar. Apakah ini akan menjalar ke Jakarta menargetkan pembakaran gedung MPR RI yang malam itu juga aksi massa sedang melakukan pengepungan hingga dini hari di Jakarta Pusat? Pertanyaan ini adalah menjadi yang paling signifikan untuk melihat perjumpaan pertama antara Triaspolitika vs. Manupolitika yang kali ini konteks kasusnya mewakili langsung fenomena sosial-politik yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Manunggalian sedang berproses secara senyap dan membutuhkan konteks sosial yang bagus.

bersambung…

Jakarta, 31 Agustus 2025

A.R. Arianto

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Tinggalkan Komentar